Dunia Jurnalis
Seberapa
pentingkah sebuah informasi bagi seseorang? Mengenai manfaat dan juga dampaknya
jika kita tidak mendapatkan informasi, yang pasti dampaknya kita akan
tertinggal karena sebuah informasi sangat bermanfaat agar kita tahu apa saja
yang terjadi di sekitar kita, baik jarak dekat ataupun jarak jauh.
Dalam
jarak dekat, informasi bisa kita peroleh dengan kita datang langsung ke tempat
kejadian, atau mendengar cerita dari teman, dan tetangga. Namun bagaimana jika
jaraknya jauh? Di luar kota? Di luar provinsi? Di luar negeri? Oleh sebab itu,
untuk mempermudah jangkauan informasi, sejak zaman dahulu sudah ada sebuah
media yang menyediakan kabar berita mengenai kejadian-kejadian yang ada di
dalam atau pun di luar negeri sekalipun. Media tersebut seperti televisi,
radio, koran, surat kabar, dan majalah. Bagaimana caranya berita tersebut bisa
dimuat di media? Siapakah yang mencari sumber berita tersebut? Pertanyaan seperti
itu pasti pernah terlintas di benak kita. Maka jawabannya adalah “Jurnalis”
atau yang biasa kita sebut sebagai “wartawan”.
Nah
teman-teman, berbicara soal jurnalis/ wartawan, sebuah tema yang menarik sekali
untuk dibahas di pelatihan pekan ke lima ini, tentunya masih bersama dengan peserta
calon anggota Forum Lingkar Pena Bogor. Pelatihan di pekan ke lima ini di
selenggarakan pada hari Minggu, 26 November 2017 di jalan Gunung Batu, Gang
Mushola, Kota Bogor. Dengan seorang pembicara dari Bekasi yaitu Ilham Anugrah
yang merupakah seorang jurnalis.
Jika
di era dulu kita mendapatkan berita dari media televisi, koran, radio, surat kabar,
dan majalah, maka di era sekarang yang sudah semakin berkembang ini, informasi
bisa kita akses dari mana saja dan kapan saja. Dengan mermodalkan gadget, kita
bisa mengakses berita dari internet. Sudah banyak situs yang meyediakan
informasi-informasi terkini, mulai dari dunia politik, kesehatan, kuliner,
wisata, dan masih banyak yang lainnya. Hal ini tentu saja memberikan keuntungan
yang besar bagi pengguna, karena mereka tidak perlu repot lagi membeli koran,
majalah, meskipun ada beberapa yang masih tetap berlangganan koran dan majalah.
Dengan
mengklik satu website di gadget, atau di pencarian, maka berbagai layanan
berita bermunculan dari berbagai sumber. Sambil duduk di bus, kereta, kita bisa
menghabiskan waktu dengan membaca berita di internet. Sambil makan, duduk, berdiri,
tiduran di kasur, kita bisa dengan mudah mengakses berita apa saja yang kita
inginkan. Bahkan koran dan majalah pun sudah tersedia dalam bentuk online,
canggih bukan?
Kemajuan
teknologi seperti itu apakah mengakibatkan terbatasnya atau sulitnya peluang
sebagai jurnalis? Tentu saja tidak, justru membuka peluang besar bagi jurnalis.
Bahkan di era sekarang jurnalis tidak hanya sekedar orang yang bekerja sebagai
wartawan, ada juga jurnalis yang pekerjaannya sebagai penulis lepas, mengisi
berita-berita, artikel di media sosial seperti blog, wordpress, wikipedia, dan
masih banyak lagi yang lain. Beberapa pemilik media juga membuat situs khusus
bagi penulis lepas, dengan membuka peluang bagi para penulis pemula atau
professional. Mereka menyediakan honor bagi yang bersedia mengirimkan tulisan
berupa puisi, cerpen, artikel, opini, sinopsis, tanpa harus terikat kontrak. Itu
yang membedakan profesi jurnalis di era dulu dan sekarang.
Berbicara
mengenai media, terkhusus media koran. Meskipun di media sosial sudah banyak
menyediakan layanan berita yang lebih praktis dan mudah, namun tidak membatasi mereka
untuk tetap memproduksi koran. Media-media juga semakin banyak berkembang
terutama media lokal. Jasa penerbitan buku pun berkembang dimana-mana. Sementara
untuk media televisi juga semakin banyak. Namun hal mendasar yang haarus
diperhatikan dari perbedaan media sosial dan koran adalah mengenai tingkat
keakuratan. Karena berita yang tersebar di media sosial saat ini banyak yang
hoax, banyak yang dibuat asal-asalan hanya untuk mendobrak popularitas agar
banyak pembaca, jarang ada editor khusus yang menyaring berita tersebut sebelum
di muat. Sedangkan di media koran sebelum diterbitkan, naskah berita sudah di
koreksi oleh editor mengenai sumber dan kelayakn berita, meski ada juga beberapa
media yang abal-abal, terutama media lokal.
“Saya
pernah menjumpai beberapa media yang hanya mau ambil untungnya saja, sudah
meliput lalu dibuatkan majalah, jika tidak diberi imbalan, maka wartawan
tersebut mengancam akan membuat isu yang tidak benar,” kata salah satu peserta.
Ilham
sendiri membenarkan adanya beberapa media yang tidak bertanggung jawab. “Kita
harus berhati-hati pada media yang seperti itu, sebelum memberikan berita tanyakan
dulu asal dan tujuannya,” kata Ilham. “Dunia jurnalis memang terkadang penuh
propaganda, seorang jurnalis yang baik adalah jurnalis yang memahami kode etik
jurnalis itu sendiri, tambah Ilham lagi.
Peserta
juga banyak yang bertanya mengenai perbedaan jurnalis di Indonesia dan di luar
negeri, bagaimana membuat berita yang sesuai dengan permintaan media, mengenai berita
hoax yang banyak beredar, dan beberapa pertanyaan untuk mengenal dunia jurnalis
lebih dalam.
Di
akhir pelatihan, Ilham memberikan tugas reportase tentang kemacetan yang terjadi
di Kota Bogor, dengan tujuan melatih peserta untuk membuat artikel berita.
Setelah
mengenal dunia jurnalis, tertarikah teman-teman untuk bergabung di dalamnya? Sepertinya
menjadi penulis lepas lebih seru ya? Asalkan berita yang kita buat tidak hoax
ya teman-teman, selamat berkarya !



Komentar
Posting Komentar